Rabu, 05 Desember 2012

biografi seni patung



Seni patung


Seni patung adalah cabang seni rupa yang hasil karyanya berwujud tiga dimensi. Biasanya diciptakan dengan cara memahat, modeling (misalnya dengan bahan tanah liat) atau kasting (dengan cetakan). Seiring dengan perkembangan seni patung modern, maka karya-karya seni patung menjadi semakin beragam, baik bentuk maupun bahan dan teknik yang digunakan, sejalan dengan perkembangan teknologi serta penemuan bahan-bahan baru.



    == Seni patung di Indonesia == 
Seni patung di Indonesia adalah seni yang diciptakan dengan fungsinya sendiri - sendiri. contohnya di Bali patung digunakan untuk bersembahyang berbeda dengan daerah lain.
Seni patung juga banyak digunakan sebagai monumen yang mengabadikan peristiwa penting atau menghormati tokoh, terutama pejuang kemerdekaan.
Kelahiran Seni patung modern Indonesia diawali oleh para seniman (antara lain Hendra Gunawan, Trubus, Edhi Soenarso, dll) yang membuat karya-karya patung pahatan dari batu vulkanik di Yogyakarta, di tahun 50-an. Berbagai patung figuratif itu sebagian masih ada di halaman gedung DPRD D.I Yogyakarta. Seni patung modern baru dikembangkan dan dipelajari secara akademik setelah adanya Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta.
==Seni patung di Asia==
Berbagai macam jenis patung terdapat di banyak wilayah yang berbeda di Asia, biasanya dipengaruhi oleh agama Hindu dan Buddha. Sejumlah besar patung Hindu di Kamboja dijaga kelestariannya di Angkor, akan tetapi penjarahan terorganisir yang terjadi berdampak besar pada banyak situs peninggalan di negara itu. ''Lihat juga'' [[Angkor Wat]]. Di Thailand, kebanyakan patung dikhususkan pada bentuk Buddha. Di Indonesia, patung-patung yang dipengaruhi agama Hindu banyak ditemui di situs [[Candi Prambanan]] dan berbagai tempat di pulau Bali. Sedangkan pengaruh agama Buddha ditemui di situs Candi [[Borobudur]]. 

Di India, karya patung pertama kali ditemukan di peradaban [[Lembah Indus]] (3300-1700) SM. Ini adalah salah satu contoh awal karya patung di dunia. Kemudian, setelah Hinduisme, Buddhisme dan Jainisme berkembang lebih jauh, India menciptakan patung-patung tembaga serta pahatan batu dengan tingkat kerumitan yang besar, seperti yang terdapat pada hiasan-hiasan kuil Hindu, Jain dan Buddha. 

Artifak-artifak yang ditemukan di [[Republik Rakyat Cina]] berasal dari sekitar tahun 10.000 SM. Kebanyakan karya patung Tiongkok yang dipajang di museum berasal dari beberapa periode sejarah, [[Dinasti Zhou]] (1066-221 SM) menghasilkan bermacam-macam jenis bejana perunggu cetak dengan hiasan yang rumit. [[Dinasti Qin]] (221-206 SM) yang terkenal dengan patung barisan tentara yang dibuat dari terracota. [[Dinasti Han]] (206 SM - 220AD) dengan patung-patung figur yang mengesankan kekuatan. Patung Buddha pertama ditemui pada periode Tiga Kerajaan (abad ketiga). Yang dianggap sebagai zaman keemasan Tiongkok adalah periode [[Dinasti Tang]], pada saat perang saudara, patung-patung figur dekoratif dibuat dalam jumlah banyak dan diekspor untuk dana peperangan. Kemudian setelah akhir [[Dinasti Ming]] (akhir abad 17) hampir tidak ada patung yang dikoleksi museum, lebih banyak berupa perhiasan, batu mulia, atau gerabah--dan pada abad 20 yang gegap gempita sama sekali tidak ada karya yang dikenali sebagai karya patung, meskipun saat itu terdapat sekolah patung yang bercorak sosial realis pengaruh Soviet di awal dekade rezim komunis, dan pada pergantian abad, para pengrajin Tiongkok mulai mendominasi genre karya patung komersial (patung figur miniatur, mainan dsb) dan seniman garda depan Tiongkok mulai berpartisipasi dalam seni kontemporer Eropa Amerika.

Di Jepang, karya patung dan lukisan yang tak terhitung banyaknya, seringkali di bawah sponsor pemerintah. Kebanyakan patung di Jepang dikaitkan dengan agama, dan seiring dengan berkurangnya peran tradisi Buddhisme, jenis penggunaan bahannya juga berkurang. Selama periode Kofun (abad ketiga), patung tanah liat yang disebut [[haniwa]] didirikan di luar makam. Di dalam Kondo yang berada di [[Horyu-ji]] terdapat Trinitas Shaka (623), patung Buddha yang berupa dua bodhisattva serta patung yang disebut dengan [[Para Raja Pengawal Empat Arah]].
Patung kayu (abad 9) mengambarkan Shakyamuni, salah satu bentuk Buddha, yang menghiasi bangunan sekunder di Muro-ji, adalah ciri khas dari patung awal periode [[Heian period|Heian]], dengan tubuh berat, dibalut lipatan draperi tebal yang dipahat dengan gaya ''hompa-shiki'' (ombak bergulung), serta ekspresi wajah yang terkesan serius dan menarik diri. Sekolah seni patung Kei, menciptakan gaya patung baru dan lebih realistik.

            Seni patung di Indonesia sangat kurang mendapat perhatian. Hal ini
sangat dirasakan, di mana selama ini titik berat dari para Pemahat
Eko Budi Wienarno adalah dosen Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas
Negeri Malang. 290 BAHASA DAN SENI, Tahun 31, Nomor 2, Agustus 2003
adalah tertuju pada kegiatan praktis. Hal ini benar-benar saya alami ketika
mengikuti beberapa proyek dari Edi Sunarso pada tahun 1980-an. Rekan
sejawat saya, ketika menjadi mahasiswa di ASRI (sekarang Fakultas Seni
Rupa ISI Yogyakarta) merasakan benar, bahwa yang disebut ilmu itu
adalah kegiatan praktek di lapangan, karena berbagai hal yang
berhubungan dengan masalah konsep, teori strategi, dan atau metode tidak
menjadi beban dalam proses berkarya. Hal ini mungkin, waktu kami
hanya menjadi cantrik Pak Edi Sunarso, sehingga apa yang kami
kerjakan adalah berdasarkan order, seperti seniman-seniman Bali dewasa
ini. Mereka tidak lagi mampu untuk mengungkapkan kreasi individunya,
tetapi secara tidak langsung telah menjadi epigon dari maestro seperti
CokotSaya  atau kTilem. ini merasa sangat menyadari akan kelemahan tersebut, dan
mungkin hal ini juga dirasakan banyak seniman patung yang lainnya.
Tetapi langkah untuk mengawali, bagaimana seni patung menjadi sebuah
ekspresi yang tidak hanya bersifat intuitif, dan atau berpihak pada pasar
(pesanan) mungkin sesuatu yang masih sangat sulit saya kemukakan pada
kesempatan ini. Tetapi hal ini tentunya bukan sesuatu menjadi dunia seni
patung kecil, dan atau tersingkir dari percaturan seni rupa pada umumnya.
Hingga saat ini saya merasakan gaung pembicaraan tentang seni patung
tampak semakin terdesak oleh perkembangan seni lukis, kriya dan desain
komunikasi visual.
Seperti kenyataan yang telah dikemukakan di depan, hal ini
membutuhkan suatu wacana baru, yaitu yang dapat membangkitkan
kegairahan berkarya dan juga diimbangi sebuah kegiatan kritik. Hanya
saja beberapa kelemahan kritikus seni rupa yang selama ini berperan
adalah masih bersifat memihak pada disiplin induknya, di mana mereka
kebanyakan ditumbuhkan dari disiplin seni lukis. Upaya untuk mengkritisi
keberadaan seni patung tidak menunjukkan minat atau gairah yang besar,
sehingga hal ini menunjukkan banyak kondisi patung-patung di berbagai
kota di Indonesia tidak menjadi perhatian, terlebih di kota seperti di
Malang. Banyak bentuk-bentuk perujudan patung yang sejak direncanakan
kurang memiliki atmosfir yang tepat, sehingga pada perkembangan
berikutnya patung-patung tersebut menjadi termakan oleh lingkungannya.
Hal ini menunjukkan, bahwa ada kelemahan yang harus disadari oleh
seniman  patung sendiri, yaitu, yang disebut lingkungan bukan hanya
dimensi fisik, tetapi lebih disadari adanya dimensi sosial yang bersifat Wienarno, Seni Patung Indonesia  291
dinamis. Hal ini berkaitan dengan masalah fungsi, artinya kehadiran karya
seni itu bersifat fungsional. Menurut pengertian dari termilogi tersebut :
Fungsional adalah suatu kenyataan yang menekankan adanya unsur-unsur
di dalam suatu mesyarakat atau kebudayaan yang saling berbangun dan
menjadi kesatuan yang berfungsi (Muliono, 1990: 245).
Merujuk pada termilogi fungsioanl tersebut, maka patung yang
dihadirkan pada suatu lingkungan tertentu bukan sesuatu yang tanpa
alasan. Seperti patung dan relief Sang Budha yang pernah saya produksi
untuk sebuah wihara di Blitar, sangat jelas. Patung dan relief yang
diletakkan di halaman wiraha tersebut merupakan sebuah artefaktal seperti
halnya bentuk-bentuk kesusastraan yang diukir di badan candi-candi.
Fungsi utama adalah sebagai media sosialisasi tentang nilai-nilai luhur
yang termaktub di dalam cerita atau kisah tertentu.
Gambar 1
Relief Kisah Sang Budha
Membicarakan fungsi dari patung, hal ini merupakan sebuah
ketrampilan untuk membentuk bahan keras yang terdiri dari batu atau292 BAHASA DAN SENI, Tahun 31, Nomor 2, Agustus 2003
kayu menjadi perujudan tertentu. Ketrampilan ini telah dimiliki sebagai
bentuk dorongan intuitif dari kebudayaan animistik, tetapi sebagai sebuah
ketrampilan proposional dinyatakan adanya suatu ketrampilan yang
dihasilkan dari pola difusi yaitu berupa keahlian profesioanal yang berasal
dari peminjaman (Culture Borrowing) kebudayan yang lain.
Kenyataan ini telah membedakan, bahwa sesuatu yang tumbuh di
Indonesia lebih dikarenakan oleh suatu bentuk proses alkulturasi yang
bersumber dari kebudayaan Hindhu (India). Seperti yang dikemukakan
oleh Claire Holt dalam bukunya: Art in Indonesia Continuitas and Change
(1967), bahwa pengaruh India di Indonesia itu telah memasuki ungkapan
statik dari masyarakat hingga ke inti yang bersifat esensial, sungguhpun
perkembangan berikutnya mengalami pencarian secara gradual
(Soedarsono, 2000: 48-49).  Persoalan tersebut menjadi lain, ketika
menyimak lebih mendalam perkembangan seni patung di Eropa.
Seni patung di Eropa merupakan sebuah perkembangan yang secara
sadar, dan berkeinginan membangkitkan tradisi kesenian yang pernah jaya
di masa kejayaan Yunani. Maka perkembangan seni pahat ditumbuhkan
benar-benar bersifat genetikal, yaitu bermula dari mengembangkan
tipologi bentuk-bentuk personifikasi dewa-dewa Yunani, seperti Appolo
dan Venus.
Arus kuat dari abad Renaissance ini mampu menembus India pada
masa perkembangan kebudayaan berbasis Budistis, sehingga prototype
dari patung-patung Budha merupakan hasil alkulturasi dari pola seni
patung Eropa (Budiani, 1963: 109). Hal ini nampak benar bahwa
perujudan patung-patung Budhis sangat berbeda dengan bentuk patung
yang berbasis Hindhuistis, sehingga perujudan patung-patung Budhis
lebih bersifat naturalistik. Dengan demikian detail-detail dari figurnya
tampak bersifat anatomis, ketimbang perujudan patung-patung
Hindhuistis yang tampak lebih realistis dan memiliki kecenderungan
keornamentis.  Perhatikan bentuk-bentuk patung di candi-candi Jawa
Timur, yaitu yang paling mudah disimak reproduksi patung Ken Dedes di
sebelah timur patung selamat datang menuju kota Malang.
Pemahaman tersebut menjadi sangat saya sadari benar, ketika
membuat relief sejarah Sidharta Gautama untuk wihara di Blitar,
penggambaran bentuk Sidharta ketika menjalani tapa brata di bawah
pohon Bodhi sebelum mendapatkan pencerahan. Wienarno, Seni Patung Indonesia  293
Menurut ketua pendeta yang bernama Bitshu Giri Ragitha,
menjelaskan adanya karakteristik dari Sidharta Nyoman Nuarte waktu itu,
yang tubuhnya kering, tulang-tulang iganya menonjol, wajahnya dingin
dan gelap, kain jubahnya melekat pada kulit (tampak seperti menjadi
satu).
Gambar 2
Bentuk Perujudan Sidharta Gautama Yang Bersifat Naturalistik
Pengaruh-pengaruh patung yang bersifat naturalistik ini ternyata
tidak terlalu kuat di Indonesia, tetapi pada umumnya lebih condong pada
bentuk-bentuk yang realistik. Hal ini dapat disimak pada bentuk
penciptaan patung-patung Nyoman Nuarte pada sepuluh tahun terakhir
ini, seperti Arjuna Wiwaha di Jakarta dan Garuda Wisnu Kencana di Bali,
demikian juga tidak berbeda jauh dengan patung naturalistik-simbolik
perjuangan rakyat terbebas dari penjajahan di depan Stasiun Tugu (Kota
Lama) Malang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar